Artikel

Tuesday, November 3, 2009
Dua Remaja Mesum di Kampus UMM

Selasa, 3 November 2009 | 08:57 WIB

MALANG, kompas..com - Sepasang remaja bercumbu mesra di siang bolong. Rekaman video berdurasi 12 menit dan 27 detik ini beredar luas di kalangan mahasiswa di Malang. Isinya memperlihatkan dua pasang remaja tengah bercumbu dengan adegan yang lumayan menantang di lingkungan kampus mewah dan besar di Malang, yakni Universitas Muhammadiyah Malang (UMM).

Memang, dua pasang remaja di video itu tak sampai telanjang, tapi bisa dibilang apa yang mereka lakukan terhitung tidak patut dilakukan di tempat umum, apalagi di lingkungan sebuah lembaga pendidikan.

Video tersebut sudah beredar luas di kalangan mahasiswa dari satu flashdisk ke flashdisk lain, dan akhirnya beredar luas di warnet sekitar kampus itu. Karena file video ini cukup besar, diperkirakan rekaman ini tidak beredar antarponsel. Sementara dari jenis file dan ketajaman gambarnya, diperkirakan video ini diambil dengan handycam.

Dari isu yang beredar di kalangan mahasiswa, baik 'pemain' maupun pembuat video ini diduga sama-sama mahasiswa. Kabarnya, pasangan remaja mesum yang ada dalam video ini merupakan mahasiswa fakultas ekonomi. Sementara, diisukan pula, video ini diambil diam-diam oleh para mahasiswa dari jurusan psikologi.

Banyak yang meyakini adegan mesum ini dilakukan di kampus tersebut, tepatnya di balkon kampus Gedung Kuliah Bersama (GKB) 11. GKB 11 merupakan kampus fakultas ekonomi serta fakultas peternakan dan perikanan.

Dugaan bahwa adegan tersebut dilakukan di lingkungan kampus, juga dikuatkan dengan spanduk putih bertuliskan program kerja sama Fakultas Peternakan dan Perikanan Universitas Ternama di Malang dengan salah satu perusahaan swasta asing, yang bisa dilihat jelas dalam video.

Namun, Kepala Humas UMM, Drs Nasrullah, berpendapat lain. Dia meyakini, rekaman itu sudah lama dibuat. Alasannya, melihat spanduk kegiatan yang terlihat dalam rekaman video, dia yakin rekaman ini sudah setahun lulu.

"Saya juga tidak yakin yang ada di video itu mahasiswa UMM. Badan mereka terlalu kecil," kata Nasrullah.

Rektor UMM, Prof Dr Muhadjir Effendy, mengaku prihatin dengan adanya video yang diakuinya mempermalukan nama besar lembaga ini. Namun, dia tidak mau terburu-buru menjustifikasi bahwa pelaku yang ada dalam video itu mahasiswa UMM.

"Pasalnya, satpam kampus kami memang sering menangkap basah pasangan mesum di dalam kampus. Mereka selalu orang luar," kata Muhadjir, Senin (2/11).

Rektorat, lanjut Muhadjir, tidak akan tinggal diam dengan adanya video ini. Dia mengatakan akan secepatnya mengusut, apakah benar pelaku dalam video ini mahasiswa UMM.

Ketika dihubungi semalam, Muhadjir memang tak bisa menyembunyikan kekecewaannya. "Kalau memang benar pelaku dan yang merekam video itu mahasiswa UMM, akan kami pecat dua-duanya," katanya dengan nada tinggi.


source: http://megapolitan.kompas..com/read/....di.Kampus.UMM

anak muda jaman sekarang . . . . ga ada duit buat nyewa hotel, di kampus pun jadi
ck ck ckkasiaaaan bgt....
pa perlu di subsidi yah wt tempatnya???





Talking Demokrat: Andi Mallarangeng Cocok Jadi Menpora Karena Jago Bermain Tenis

JAKARTA, kompas..com — Kritik tajam dilayangkan atas penempatan menteri yang dilakukan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono pada kabinet barunya. Di sejumlah pos kementerian, Presiden dinilai menempatkan orang-orang yang tidak ahli di bidangnya.

Partai pengusung SBY, Demokrat, membalas kritik tajam tersebut. Ketua DPP Partai Demokrat Djafar Hafsyah mengatakan, penempatan para menteri dinilai sudah tepat. Ia mencontohkan kader Demokrat, Andi Mallarangeng, yang ditunjuk sebagai Menteri Pemuda dan Olahraga merupakan salah satu indikator ketepatan SBY menempatkan orang. Apa indikator ketepatannya?

"Andi itu seorang profesional dan dia pemain tenis yang baik," kata Djafar ketika berbicara pada diskusi "Menagih Janji SBY-Boediono" di Gedung DPD, Jakarta, Jumat (23/10).

"Andi bermain tenis cukup bagus. Masak menteri olahraga tidak bisa main olahraga. Kalau cuma bisa lari pagi kan tidak pas,"
tutur Wakil Ketua Komisi IV DPR ini.

Di samping itu, menurut dia, usia Andi yang relatif cukup muda membuatnya pas menempati pos tersebut. "Andi masih muda, pekerja politik. Empat tahun jadi Juru Bicara Presiden tidak pernah salah. Saya pikir dia bisa jadi idola para pemuda dan mendorong kemajuan dunia olahraga," kata Djafar.

Tak hanya Andi, Menteri Komunikasi dan Informatika Tifatul Sembiring asal PKS juga dinilai tepat menduduki posnya. "Karena dia seorang insinyur," ujarnya.

Sementara itu, anggota DPD asal Sulawesi Barat, M Asri, mengatakan, SBY hanya memberikan ukuran kuantitatif untuk membagi porsi menteri bagi mitra koalisinya.

"Kalau dari parpol, ukurannya jelas, ada yang dapat 3,4,5 kursi. Adapun untuk kalangan profesional justru tidak jelas bagaimana indikatornya," kata Asri.

http://nasional.kompas..com/read/xml...k.Jadi.Menpora

 2 Bandar Besar ditangkap bos!!!!!


MAKASSAR – Direktorat Narkoba Kepolisian Daerah (Polda) Sulselbar membongkar ja-ringan peredaran narkotika jenis ekstasi senilai Rp800 juta di Jalan Sungai Tangka Kec Ujung Pandang, tadi malam.

Dari operasi tersebut, polisi menyita ribuan butir pil ekstasi siap edar. Dalam penggerebekan sekitar pukul 21.00 Wita itu, petugas menangkap dua tersangka masing-masing Ferdinan, 35,warga Komp Taman Toraja Jalan Tanjung Bunga Kec Tamalate dan Gundara, 36,warga Jalan Gunung Nona Kec Ujung Pandang.

Dari tangan dua karyawan swasta ini, penggerebekan yang dipimpin Kasat I Narkoba Polda Sulselbar AKBP Totok WS menyita sedikitnya 4.000 butir pil haram yang harganya ditaksir mencapai Rp800 juta. Pil tersebut tersimpan dalam sebuah paket bungkusan berwarna cokelat.

Totok mengungkapkan, penangkapan terhadap Ferdinan dan Gundara berdasarkan hasil pengembangan penyelidikan petugas sejak enam bulan yang lalu.Menurut dia, dari sejumlah pemakai narkoba yang ditangkap, seluruhnya mengaku diperoleh dari tangan Ferdinan yang merupakan warga keturunan Tionghoa ini. "Keduanya merupakan bandar terbesar di Makassar dan merupakan jaringan Indonesia Timur.

Mereka ini diduga telah menjalankan bisnis haramnya sejak lama, tapi baru kali ini bisa kami amankan," tutur Totok saat ditemui di lokasi penangkapan tadi malam. Informasi yang dihimpun harian Seputar Indonesia (SI), penangkapan terhadap kedua tersangka berawal dari pengintaian sebuah rumah di Jalan Pongtika Kec Bontoala yang beberapa hari lalu diduga menerima kiriman paket barang haram dari Jakarta.

Di saat yang bersamaan,Ferdinan dan Gundara tiba-tiba keluar dari rumah mewah tersebut dengan mengendarai sebuah mobil pickup bernopol DD 8295 J.Tak mau melewatkan buruannya, kedua petugas pun menghadang mobil berwarna cokelat ini di Jalan Sungai Tangka, tepat di belakang rumah jabatan Gubernur Sulsel Syahrul Yasin Limpo.

Setelah melakukan penggeledahan sekitar 15 menit, petugas berpakaian preman ini menemukan bungkusan sedang yang berisi 4.000 butir pil ineks yang disembunyikan di bawah jok depan mobilnya. Kuat dugaan,barang bukti tersebut hendak diantarkan ke salah seorang pelanggannya di Jalan Gunung Nona.

Dari pantauan SI tadi malam, penghadangan mobil ini sempat membuat arus lalu lintas di Jalan Sungai Tangka sempat macet sekitar 30 menit.Pasalnya, polisi melakukan pemeriksaan tepat di tengah badan jalan. "Dari hasil sementara, barang bukti ini dikirim seorang bandar di Jakarta dan rencananya akan dijual di Makassar senilai Rp200.000 setiap butirnya.

Merek ekstasinya jenis Bintang dan barang ini masih sangat langka di Makassar," pungkas Perwira Menengah (Pamen) Polri. Polisi juga sempat melakukan penggeledahan di kedua rumah tersangka namun tidak menghasilkan apa-apa.Kuat dugaan,operasi petugas ini bocor sehingga pemilik rumah telah memindahkan barang bukti dari penempatan semulanya.

Mantan Kasat Narkoba Polwiltabes Makassar ini menambahkan, jika terbukti, kedua tersangka di atas akan dikenakan Undang-Undang Narkotika No22/- 1997 Pasal 78 tentang psikotropika dengan ganjaran 15 tahun kurungan penjara.

Sementara itu, Ferdinan yang ditemui di TKP mengungkapkan, seluruh barang bukti yang disita polisi hanyalah titipan dari seorang temannya yang beralamat di Jalan Gunung Nona. "Saya ini hanya dijebak Pak dan ribuan ekstasi ini bukan milik saya," kelitnya kepada wartawan. Meski demikian, kedua tersangka digelandang ke Polda Sulselbar menjalani pemeriksaan maraton. (SI-wahyudi)