Patung Dewa Nepal dan China Sambut Imlek

Monday, February 8, 2010
DENPASAR, KOMPAS.com - Seminggu jelang hari raya Imlek, sejumlah umat Hindu dan Budha di Bali menggelar ritual penyucian dewa di tempat ibadat Kongco Dwipayana tanah kilap Denpasar, Senin (08/02/2010).
Ritual yang digelar setahun sekali ini dilakukan dengan cara membersihkan patung-patung dewa yang disucikan diantaranya Dewa Hong Tae Jin, Tiang San Semuk, Kwan Ti Yakong dan lainnya. Selain patung-patung Dewa di kongco, tahun ini umat juga mendatangkan patung Dewi Kwan Im tangan seribu yang dari Nepal dan China untuk disucikan.
Atu Mangku Ida Bagus Adnyana mengatakan, makna ritual penyucian Dewa ini adalah untuk memulai segala sesuatu di tahun yang baru dengan hati yang bersih dan siap menghadapi tantangan.
Puncak kegiatan menyambut tahun baru imlek di Kongco Dwipayana akan dilaksanakan tanggal 13 malam atau tepat saat pergantian tahun. Diperkirakan ratusan umat akan memadati kongco untuk melakukan persembahyangan bersama.

BOJONEGORO, KOMPAS.com - Permukaan air Bengawan Solo di Bojonegoro terus naik. Ketinggian air pada papan duga di Bojonegoro Kota pukul 09.00 menunjukkan angka 13,18 naik 10 sentimeter dibanding pukul 06.00.
Kondisi itu sudah siaga I. Warga Sumbang Timun, Ledok Kulon dan Ngulanan yang selama ini jadi sasaran pertama luapan Bengawan Solo diminta waspada.
Warga di wilayah Kecamatan Kanor juga harus lebih waspada. Pembangunan tanggul permanen baru tuntas 6,5 kilometer. Kondisi tanggul juga belum kuat betul karena belum ditumbuhi rumput untuk mencegah tanah tanggul hanyut saat diguyur hujan deras.
Bupati Bojonegoro Suyoto bersama sejumlah pejabat termasuk dari  Badan Penanggulangan Bencana telah menelusuri Bengawan Solo dari Margomulyo hingga Perbatasan Bojonegoro dan Blora di Dengok. Setelah itu juga dari Ngraho hingga Bojonegoro Kota.
Camat dan dinas terkait diminta siaga di wilayah masing-masing-masing. Kepala Desa diminta tanggap terhadap keluhan masyarakat. Kenaikan Bengawan Solo dipicu hujan lokal dan luapan anak sungai.
Hujan deras pada Minggu (7/2/2010) pukul 18.00 kembali menimbulkan banjir bandang di Dusun Sugihan Desa Kedungsumber Kecamatan Temayang. Sedikitnya 40 rumah dan 20 hektar tanaman padi berumur 70 hari terendam.
Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah Kabupaten Bojonegoro, Kasiyanto menyatakan Dusun Sugihan pada 30 Desember, 29 Januari, 1 Februari lalu juga diterjang bandang. Posisi sungai yang mengelilingi permukiman, curah hujan yang tinggi dan kritisnya lahan hutan di perbukitan makin mempermudah banjir bandang.
Upaya mengatasinya bisa dilakukan dengan membuat sudetan Kali Gandong atau Kalisoko untuk mempercepat aliran air. Upaya lain dengan membuat tanggul atau pengerukan anak-anak sungai Bengawan Solo yang mengalami pendangkalan.


KOMPAS.com — Semilir angin sejuk menyapa langkah Ngurah Wijaya (45) saat dia bersama keluarganya tiba di Pulau Kemaro, Palembang, Sumatera Selatan, Sabtu (6/2/2010). Dengan bersemangat, disapanya seorang lelaki yang sedang menyapu halaman Kelenteng Toa Pek Kong.
”Permisi, kami mau meramal di kelenteng, apa bisa?” tanya Ngurah yang datang dari Bali.
Burhan, lelaki yang disapa, tersenyum sebelum mengatakan keinginan Ngurah untuk diramal bisa saja dipenuhi, tetapi akan mubazir sebab tahun Imlek 2650 berakhir beberapa hari lagi. Ramalan yang akan terbaca adalah ramalan akhir tahun dan tidak berlaku pada tahun baru.
”Lebih baik ramalan ditunda satu minggu lagi,” ujar Burhan.
Mendengar itu, wajah Ngurah seolah surut gairah. Meski demikian, ia bisa memahami saran Burhan. Ngurah tidak keberatan datang lagi ke Pulau Kemaro karena masih berlibur di Palembang hingga 10 hari ke depan.
Ngurah hanyalah satu dari sekian banyak pengunjung yang hendak meramalkan nasib di Kelenteng Toa Pek Kong Pulau Kemaro. Menurut Burhan, hampir setiap hari ada saja orang yang ingin diramal di kelenteng. Namun, ia menyarankan mereka untuk datang lagi saat Tahun Baru Imlek 2561 tanggal 14 Februari nanti.
”Kalau sekarang, kan, masih tahun kerbau, sementara minggu depan sudah tahun macan. Hasil ramalan tentu akan berbeda,” ujar Burhan.
Meramal di Kelenteng Toa Pek Kong sebenarnya sama saja seperti di kelenteng-kelenteng lain. Metode ramal yang dipakai adalah ciam si, yakni mengocok 100 batang bambu.
Untuk memulai ciam si, pengunjung harus melakukan ritual kecil. Mereka menyalakan dupa dan memperkenalkan nama dan usia di depan patung dewa di altar kelenteng. Setelah itu, pengunjung wajib melempar dua keping kayu, masing-masing berbentuk setengah lingkaran, yang disebut sio pweh.
”Pengunjung baru boleh mengocok ciam si kalau hasil lemparan sio pweh menunjukkan warna berbeda, artinya ada izin dari dewa,” kata Burhan.
Batang ciam si yang jatuh dari hasil kocokan akan menunjukkan angka tertentu. Angka ini merupakan urutan lemari di dinding kelenteng yang berisi kertas ramalan. Pengunjung bisa membaca sendiri kertas ramalan atau meminta penjaga kelenteng untuk menafsirkannya.
Menurut Burhan, kertas ramalan biasanya memuat peruntungan (hoki) atau hal yang patut diwaspadai dalam satu tahun ke depan. Tidak ada biaya apa pun dalam meramal ciam si.
Banyak orang merasa ramalan ciam si di Kelenteng Toa Pek Kong Pulau Kemaro tepat. Tak heran pada perayaan Imlek, pulau di tengah Sungai Musi itu dipadati pengunjung dari luar daerah, termasuk dari Singapura dan China. Menurut Burhan, jumlahnya bisa ribuan orang.
Baik hanya sekadar iseng maupun serius, ramalan ciam si banyak dicari orang. Percaya atau tidak, itu terserah Anda saja.